Nenek dan Berendo

0

Oleh: Bagus SLE

Lebaran kedua. Nenek termangu sendirian di sudut berendo. Menunggu jika masih ada sanak dan kerabat berkunjung.

Di hadapannya disusun rapi toples-toples berisi kue-kue lebaran. Ada juga tempat kue bulat dan besar yang di dalamnya beruang enam. Dalam ruang – ruang tersebut diisi dengan kue-kue tradisional. Ada anak gendum yang terbuat dari gandum, pujuak/gelamai berbahan baku tepung beras ketan, koja dari tepung terigu, kue bangkit yang bahan bakunya adalah sagu pohon rumbia, krepet pisang yang memanfaatkan pisang batu dari belakang rumah, dan bipang. Bipang ini dari nasi aking.

Nenek merasa sendirian. Mestinya hari-hari lebaran rumah – rumah di desa ini ramai kunjungan keluarga, sahabat dan handai taulan, dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, hingga seminggu lebaran. Tapi sekarang, hari kedua lebaran saja sudah hampir tidak ada tamu.

Nenek bertopang dagu. Matanya menatap kue-kue yang ada di meja. Selama seminggu dengan suka cita dia mempersiapkan hidangan kebahagiaan ini. Teringat dia datuk dan Dean mengaduk gelamai bergantian dari pagi hingga sore. Keringat bercucuran, mata perih oleh asap sambil menahan puasa. Tangan Rindu yang halus dan lembut melepuh ketika menumbuk ketan, dan nenek sendiri harus bolak-balik menyiapkan, memasak kue-kue yang lain. Baru sekarang nenek merasa lelah. Lelah karena jerih payah dan hasil kreasinya tidak ada yang menikmati. Bukan karena rasa, tapi karena tidak ada tamu. Kunjungan yang ramai hanya kemarin. Lebaran pertama. Itupun para tamu hanya sebentar. Selesai bermaaf-maafan, langsung pergi, tanpa makan kue-kue…

Menjelang tengah hari, nenek masih sendiri. Dean, Rindu, Satrio dan datuk pergi berlebaran pada kakak datuk yang berada tiga desa dari desa ini. Menyesal nenek tidak ikut mereka.

Sementara orang-orang desa sudah banyak yang pergi ke Pantai Panjang di kota. Pantai adalah tempat rekreasi wajib bagi ‘orang gunung’ seperti desa nenek ini. Selain ingin mencari suasana berbeda, pantai ini juga bagus pemandangannya, dan menjadi hiburan murah bagi semua orang. Atau sekedar melihat dan masuk mall.

Ah, nenek merenung lagi. Matanya memandang jalan. Di jalan itu dia membayangkan anak-anak berlarian dengan suka cita dengan baju baru mereka. Tidak penting mahal atau murah, bagi mereka, baju mereka baru. Itu saja. Sudah jadi keharusan bagi semua orang untuk berusaha memakai pakaian baru di setiap lebaran. Kemeriahan hari kemenangan benar-benar terasa.

Wajah nenek mendung. Dia semakin kesepian. Lalu dengan enggan dia bangkit dan segera menutup pintu. Melangkah menuju tangga dan menuruni nya. Nenek tidak ingin sendiri. Dia berjalan menuju rumah tetangga. Melihat – lihat berendo, berharap ada yang duduk di situ. Satu rumah terlewati, dua rumah, tiga rumah, empat rumah, dan di depan rumah ke lima dia tersenyum dan melangkah memasuki pintu pagar, dan menuju rumah panggung itu.

“Assalamu’alaikum… “
“Waalaikumsalam… ” Jawab penghuni berendo sambil tersenyum lebar menampakkan giginya yang masih utuh dan berwarna kehitaman oleh sirih.

Sepertinya dia bahagia atas kedatangan nenek. Dia berdiri langsung menyambut nenek Dean dan menggandeng nya hingga duduk di kursi.

Dua wanita tua yang sehat, bahagia tapi di lebaran ini kesepian.

Share.

Leave A Reply

setPostViews(get_the_ID()); echo getPostViews(get_the_ID());