LABIRIN

0

Oleh Bagus SLE

Aku kembali teringat masa lalu. Udara dingin malam sepi menggiring angan.. Menggedor-gedor kepala. Hasrat kembali pada masa itu menguasai hati. Tapi manalah mungkin hal itu terjadi. Selain aku tidak bisa memutar waktu, masa itu adalah cerita, yang telah lama aku tinggalkan.

Tidak, aku tidak ingin melupakan itu, walau bagaimanapun, masa itu, dia telah membentuk aku masa sekarang. Setiap rangkaian peristiwa dalam hidupku, adalah catatan yang membuat dan membentuk aku saat ini.

“Bang, pesanannya. Silahkan dinikmati… “

Suara ramah pelayan yang membawakan pesanan sedikit menghentikan lamunanku.

“Oh, iya, terimakasih mas… “

Jawabku buru-buru.

Aku edarkan pandangan ke sekeliling. Meja cafe out door ini hanya berisi tiga meja saja dari banyak meja yang tersedia. Jam beberapa jutaan di tanganku baru menunjukkan pukul sembilan malam. Tumben sepi.

“Mas…. ” Suara basku diusahakan di dengarkan oleh pelayan yang tadi. Dan dia mendengar panggilanku.

“Ada yang bisa saya bantu, mas?” Segera setelah dia sampai di mejaku.

“Tolong rokoknya satu, mas… “

Tidak perlu aku menyebutkan lagi merek rokok yang aku hisap, karena pelayan ini sudah tau yang aku maksud. Sudah seminggu ini setiap malam, datang sebelum jam delapan malam, dan pulang ketika jam operasional mereka usai.

“Ini rokoknya, mas.” Dia meletakkan pesananku di atas meja.

“Nanti kalau ada yang dibutuhkan lagi, panggil saja saya, mas… “

Lanjutnya sambil menunggu jawabanku.

“Oh, iya, mas. Nanti akan saya panggil. Terimakasih ya… ” Jawabku sambil membuka rokok yang ada di tanganku.

Hisapan demi hisapan asap rokok mengepul di udara. Sedikit demi sedikit, beban yang ditimbulkan oleh ingatan tadi perlahan mulai meninggalkan batinku.

“Selamat, malam. Bang Tanto, ya?” Seorang pemuda berdiri di hadapanku.

” Iya, ada apa, ya?”

“Berarti tidak salah penglihatanku.”

Pemuda yang perkiraanku berusia duapuluh dua tahun ini menyalami ku.

“Saya Koko, bang. Boleh saya gabung dengan abang?” Matanya memandang kursi di depanku.

“Oh, silahkan… ” Jawabku ringan.

“Saya pernah mengikuti seminar yang abang salah seorang pematerinya. Saya sangat tertarik dengan materi yang abang sampaikan.”

Aku mengernyitkan dahi.

“Di mana dan materi yang apa, ya?”

Wajar kalau aku bertanya, karena sudah banyak seminar yang melibatkan aku, dan materinyapun selalu berubah-ubah.

Obrolan panjang kami berawal dari situ. Hingga pada pertanyaan yang membuat aku selalu sesak dan emosi setiap kali jika ada yang melontarkan.

“Anak abang yang tertua umur berapa, ya?”

Pertanyaan yang tiba-tiba menimbulkan rasa gamang yang sempat naik tinggi membuat aku hampir saja meluapkan dengan kalimat ketersinggungan. Aku hisap dalam-dalam rokok yang hampir saja mati, karena terlupakan akibat obrolan tadi.

“Mas, berapa semua?”

Pelayan yang kebetulan lewat di depanku manahan langkahnya.

“Sebentar ya, bang. Saya ambil billnya.”

Sepeninggal waiter, aku menatap Koko dalam-dalam.

“Sampai di sini saja obrolan kita malam ini, Ko. Semoga lain kali kita sambung lagi.”

“Oke, bang. Terimakasih diskusi kita tadi. Terimakasih juga traktirannya.”

Malam ini aku bergegas meninggalkan cafe. Bukan karena tidak betah lagi, bukan juga karena ada alasan lain. Aku merasa pengap saja udara malam ini.

Pertanyaan Boy tadi menghantam dadaku. Pertanyaan yang masih bersangkutan dengan pertanyaan yang membuat aku kadang-kadang hampir berteriak pada yang menanyakan.

“Kapan nikah?”

“Sudah punya anak berapa?”

“Kok istri tidak diajak?”

Tiga pertanyaan ini membuat aku menghindari acara keluarga, reuni, pesta, orang meninggal, ataupun tempat keramaian yang membuat aku akan bertemu orang-orang yang mengenalku dan sudah lama tidak bertemu.

“Apa kamu takut dengan perempuan?”

“Apa kamu tidak suka perempuan?”

“Atau kamu tidak bisa mencari istri?”

Pertanyaan-pertanyaan susulan jika aku menjawab pertanyaan awal mereka. Dan semua pertanyaan itu membuat aku jadi bahan tertawaan jika semakin dilayani.

“Cukup sudah. Aku harus menghentikan mereka.” Tekadku dalam hati.

“Kalian islam?” Suatu ketika, di suatu pesta, aku balik bertanya dengan para penanya. Mereka adalah para tokoh masyarakat, sudah haji dan duduk pada barisan terdepan di antara para tetamu, dan tempat mereka lebih diistimewakan.

Mata terperangah, atau ada yang tersinggung, jengah lalu malu, ekspresi yang aku lihat dari wajah-wajah tua mereka. Skak mat!

“Jika kalian islam, kalian pasti sangat tahu empat hal yang dirahasiakan oleh Tuhan yang kalian sembah. Jodoh, maut, rezeki, dan bala. Jika kalian belum tahu, barusan aku ajarkan pada kalian.”

Dengan tenang aku sampaikan kalimat tersebut, dengan nada yang jelas, agar mereka yang sudah uzur tersebut dapat mendengarnya. Selain mereka, sebagian tamu-tamu yang mendengar terkejut.

Setahu mereka, dari kecil aku adalah anak yang sopan, berprestasi, dan belum pernah melawan orang-orang tua di kampung, sudah menjelajah hampir seluruh wilayah negeri ini, dan sekarang menjalankan bisnis sendiri dan termasuk sukses.

Tidak penting bagiku bagaimana pendapat mereka semua, yang pasti, kalimat-kalimat yang aku keluarkan barusan adalah letupan dari ketersinggungan yang sudah sangat lama aku pendam.

Rupanya suaraku tadi di dengar banyak orang, bahkan oleh biduan, pembawa acara, pemain musik dan seluruh yang ada di panggung. Beberapa saat mereka memandangku.

Sengaja aku menunggu berhentinya suara hingar bingar, agar kalimatku di dengar jelas oleh telinga tua milik orang-orang yang ada di depanku.

Berhasil apa yang aku inginkan. Dan aku puas. Tidak ada niat awal untuk memperlakukan mereka seperti itu. Kalimat, nada dan tawa yang terkekeh dari mulut yang paling terakhir dari para pembully tersebut membuat aku harus menegakkan kembali kehormatan orang tuaku yang saat itu memandangku iba dari kursi yang dia duduki, dua baris setelah serombongan orang yang menggunakan sorban, topi haji dan ada yang bergamis.

Segera aku tinggalkan para tamu istimewa tersebut dan menghampiri orang tuaku. Meraih tangannya lalu mencium tangan keriput tersebut.

“Maaf, bak… “

Pahlawan super dalam hidupku tersebut memberikan senyum sangat manis padaku, lalu mengangguk.

Seseorang mengelus pundakku. Aku menoleh, sekedar ingin tahu siapa pelakunya. Ketika mata kami berserobok, banyak pesan yang dia sampaikan dari mata yang teduh milik tubuh ringkihnya.

Aku menggenggam jemari ayahku, dan laki-laki pekerja keras itu membalas genggamanku. Wajah putihnya aku lihat segar.

Dan, sejak saat itu, sudah tidak ada lagi perundungan dari sesepuh desa dan masyarakat lainnya di desaku maupun desa-desa sekitarnya.

Aku sudah sangat terbiasa mendengar kalimat-kalimat yang berurusan dengan kata ‘menikah’ dan cara yang paling ampuh untuk menghindarinya yang aku pilih sejak tiga tahun belakang adalah menjauhi acara keramaian.

Usiaku saat ini sudah lebih dari kepala empat. Usia yang sangat memalukan jika belum menikah. Sebenarnya sudah sangat sering aku ingin membina keluarga. Bahkan pernah sampai pada tahap mengkhawatirkan, yaitu menghamili anak gadis orang terlebih dahulu atau mendatangi dukun. Semua sia-sia!

“Kalau belum jodoh, apapun usaha kita, tidak akan berhasil. Begitu juga sebaliknya, kalau sudah sampai waktunya, kitapun tidak bisa menolak.”

Kalimat yang mempu membuat aku terhibur dari seorang perempuan biasa. Perempuan itu adalah ibuku.

“Tidak ada yang sia-sia rencana Lak Talo. Mungkin Dia menginginkan bujang mak lebih berarti buat orang banyak, seperti yang dilakukan sekarang.”

Ah, Tiba-tiba aku rindu dengan almarhum ibu dan bapakku. Manusia-manusia tangguh dalam medan pertempuran kehidupan. Ibuku adalah wanita yang pertama kali yang mendukung kelebihan-kelebihanku.

“Anak kita sudah tidak pas lagi sekolah di desa. Kita pindahkan saja ke kota. Di sana dia akan jauh lebih berkembang, dibandingkan jika dia tetap sekolah di sini.”

Obrolan ibu dan ayahku pada suatu malam yang diterangi oleh bulan purnama, ketika bercengkerama di sudut beranda.

“Tadi pagi kepala sekolahnya menyampaikan padaku.”

Lanjut ibuku di sela kediaman sang suami.

Aku hanya mendengar dari ruang tamu yang berdinding papan.

‘Wali kelasnya pernah juga menyampaikan kalau anak kita sudah tidak lagi mengerjakan PR kelasnya, tapi dua tingkat di atas, dan selalu dapat nilai sempurna. Melebihi kakak kelasnya.”

Walau pelan, getar bangga sangat jelas dari kalimat laki-laki tanpa kompromi dalam menghukum, jika aku melakukan kesalahan yang berlebihan.

Seminggu setelah itu, setelah libur kenaikan kelas, aku dipindahkan ke kota, langsung menduduki kelas akhir di salah satu sekolah dasar, setelah melalui ujian oleh beberapa guru, dan semakin membanggakan keluargaku, aku mengalahkan pemilik gelar juara umum yang dia sandang selama tiga tahun berturut-turut.

Malam ini aku membuka kembali lembaran-lembaran album kehidupanku. Dan setiap lembarnya adalah kenangan yang tidak akan aku hapus dari sanubariku.

“Ren!” Aku langsung memanggil pemuda yang aku sudah dua bulan ini aku serahkan pengelolaan salah satu unit usahaku, begitu memasuki pintu rumah. Pemuda tamatan SMP yang aku beri pekerjaan setelah lelah melamar kerja di mana-mana, dua tahun lalu.

“Iya, pak…?” Sahut pemuda itu dari kamarnya.

“Tolong buatkan susu coklat hangat!”

Perintahku sambil melangkah ke halaman belakang. Di pinggir kolam ikan koi peliharaanku, aku duduk sambil menjuntaikan kaki ke dalam air.

Malam ini adalah malam ketujuh aku berada dalam galau. Surat dari ibu angkat ku ketika aku berumur 25 tahun lalu, yang ada di provinsi sebelah, tidak sengaja aku temukan ketika mencari-cari dokumen lama.

Seharusnya aku tidak membaca surat itu. Karena akan membuat aku mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hati paling dalam.

“Nak, lakukanlah, nak. Amak tidak bisa lagi membantu anak amak melepaskan diri dari perjanjian wanita itu dari dukunnya.”

Penggalan surat terakhir dari wanita yang sering di datangi oleh para calon dukun di daerahnya. Harapan terakhir yang dikirim seminggu sebelum dia meninggal, karena bertempur dengan dukun yang membuat aku kehilangan para wanita yang akan aku jadikan istri.

Sudah lima wanita yang sudah jadi tumbal perjanjian laknat antara perempuan yang aku tolak cintanya, setelah banyak berkorban untukku. Cara kepergian mereka sama. Meninggal kecelakaan setelah aku sampaikan niat akan menikahi mereka.

“Anak amak banyak kawan, dan amak yakin mereka akan dengan rela memberikan apa yang anak amak butuhkan dalam melepaskan diri dari perjanjian itu.”

Penggalan berikutnya dari surat tersebut.

“Ini pak, susu coklat hangatnya.”

Ren meletakkan segelas besar minuman yang selalu aku minum setiap kali hati lagi kacau. Pemuda yang selama ini tinggal bersamaku sudah paham dengan situasi ini. Tanpa diminta dia duduk tidak jauh dariku.

“Waktu membersihkan kamar bapak beberapa hari yang lalu, saya menemukan selembar kertas yang sudah usang. Aku membacanya.”

Aku terkejut, tapi berusaha tenang.

“Semuanya?” Dengan nada sedikit tinggi.

Pemilik bentuk tubuh yang ideal ini mengangguk.

Hening. Sekali-kali suara jangkrik memecah kesunyian.

“Kamu percaya?” Tanyaku pelan.

“Banyak hal aneh terjadi yang saya tahu pak. Dalam suku saya, suku Jawa, hal seperti yang bapak alami tidak aneh lagi. Tapi dalam cerita berbeda.”

Aku menghela nafas panjang. Dan menghembuskan perlahan. Ada lega aku rasakan. Tapi tetap aku tidak bisa mempercayai sepenuhnya hal-hal aneh tersebut.

“Menurutmu, apa yang harus saya lakukan?”

“Ikuti seperti yang amak angkat bapak tulis di suratnya.”

Tiba-tiba persendianku bagai di paksa lepas dari seluruh tubuhku.

“Aku harus serendah itu?!”

Ada kejijikan yang aku rasakan dari pertanyaanku sendiri. Tajam mataku menatap tepat ke titik hitam matanya. Dia menatapku mantap sambil mengangguk.

“Iya!”

“Maksudmu, aku harus mengikuti perintah surat itu?”

Hueks! Aku langsung merasa mau muntah!

“Ada jalan lain? Sudah berapa lama?”

Pertanyaan yang memojokkan. Matanya dialihkan ke dalam kolam.

Aku teringat dengan segala usahaku. Di awal-awal aku tahu masalah yang aku hadapi, hampir semua kekayaanku, aku habiskan untuk mencari cara lain keluar dari ‘perjanjian’ perempuan yang melahirkan sendiri anakku dengan dukunnya. Mencari dukun tandingan, atau bolak-balik ke daerahnya yang ada dekat danau terbesar di pulau ini. Hasilnya tetap. Aku kehilangan para wanita yang ingin aku jadikan sah sebagai istriku.

Suara kecipak air dari gerakan ikan di kolam tidak menghilangkan hening di halaman belakang yang di terangi lampu taman yang ada di tengah-tengah kolam.

Aku pernah gila dengan mengikuti saran dari surat itu, dan aku merasa dunia ini terbalik.

“Kamu dapat membantu saya, Ren?” Pertanyaan antara terdengar dan tidak.

“Tidak!” Jawabnya cepat dan tegas. Berbanding terbalik dengan nada pertanyaanku.

Blum! Kepalaku meledak rasanya. Otakku berserakan ke mana-mana dan menjijikkan. Sama menjijikkannya ketika aroma sperma pria yang aku harus teguk, masuk ke mulutku. Hiiiii…..

Aku putuskan, biar semuanya Tuhan yang menentukan. Bukankah aku pernah menyampaikan soal empat rahasia Tuhan yang selalu jadi rahasia pada orang-orang yang nyinyir terhadap diriku?

Catatan :
Bak : ayah (bahasa Rejang)
Lak Talo : Allah Subhana Wata’ala (bahasa Rejang)

Share.

Leave A Reply

setPostViews(get_the_ID()); echo getPostViews(get_the_ID());