Geliat Khilafah di Negeri Ratu Elizabeth

0

Genre: Non Fiksi
Penulis: Lely Noormindhawati

Sinopsis:
Pandemi ternyata memberikan kesempatan saya tetap produktif meskipun sehari-hari beraktivitas di rumah saja. Saya bersyukur. Sebagian aktivitas saya di luar rumah masih bisa dijalankan secara virtual.

Ada satu kebiasaan baru saya selama pandemi ini. Yakni memvisualkan alam melalui kamera saya, melukis cahaya. Saya hampir sepenuhnya meninggalkan food photography yang menjadi passion saya sebelumnya dan beralih ke landscape photography. Tak hanya itu, hasrat belajar sinematografi yang sejak lama saya abaikan, kini mulai mendapat tempat di hati saya. Instagram saya yang entah sudah berapa tahun tak terurus, akhirnya saya gunakan untuk menggali ilmu dan berteman dengan mereka yang memiliki passion ini.

Dari sinilah awal perkenalan saya dengan film director dan senimatografer dari UK, Zein Khalifa dan Arslan Ahmed, dua pemuda bertalenta. Yang saya suka dari hasil kerja mereka adalah color grading dan teknik pengambilan gambarnya. Saya mulai menyempatkan waktu untuk menyimak dan mempelajari video klip yang mereka hasilkan. Bersyukurnya Zein juga mau mem-posting time lines proses editing di Premiere Pro dan BTS pembuatan beberapa klip.

Mereka juga mau meluangkan waktu menjawab pertanyaan saya seputar sinematografi. Inilah yang menjadi pemantik saya akhirnya benar-benar mau meluangkan waktu belajar editing video di Premiere Pro selama pandemi ini. Bonusnya, Allah memberikan kesempatan saya menelusuri lebih jauh lika-liku ghirah Islam dan perjuangan brothers Muslim di UK.

Menjelang gala premier Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN), adalah momen bagi saya mengaplikasikan sedikit ilmu yang sudah saya dapatkan dari Zein dan Arslan juga inspirasi dari Hudson Martins (head of FX Axis Studio, Skotlandia) dengan cinematic gradingnya yang luar biasa. Bagi saya, sekalipun sedikit ilmu tapi jika tidak diaplikasikan, pastilah tidak akan membekaskan sesuatu apapun.

Saya pun meluangkan waktu untuk membuat teaser JKDN ala-ala saya, berdurasi 30 detik, untuk story WA. Karena menurut saya hasilnya lumayan, saya posting juga di IG berurutan dengan trailer official JKDN. Ternyata Arslan yang aktif me-like postingan saya tersebut. Video ala saya ini juga termasuk yang direspon Om Mark. Kena operasi senyap, raib dari peredaran karena lumayan yang nge-share di FB.

Yang membuat saya penasaran, Arslan mengerti apa tidak maksud video yang saya post kok dia selalu me-like, karena video tersebut menggunakan bahasa Indonesia dan hanya sedikit saya kasih caption berbahasa Inggris. Baru saya kasih penjelasan panjang dalam bahasa Inggris sewaktu saya post trailer official JKDN.

Karena semakin penasaran, akhirnya saya cerita. Brothers di Indonesia sedang menyiapkan gala premier film dokumenter pertama yang mengupas tentang sejarah penyebaran Islam di Indonesia di masa lampau. Jika tertarik, saya bantu register untuk ikut nobar gala premier karena saya percaya diri, kabarnya akan ada subtitle bahasa Inggris dan Arab. Ternyata sambutannya di luar ekspektasi saya. Ia sangat tertarik, apalagi membahas khilafah! Di negeri Ratu Elizabeth, pembicaraan seputar khilafah ini sesuatu yang sangat diminati. Itu menurutnya.

Akhirnya Arslan register di saat injury time sementara si Zein tidak ada kabar. Dan musibah bagi saya ternyata subtitle yang saya nantikan tidak nongol padahal saya sudah terlanjur menyampaikan. Tentu saya harus bertanggung jawab, men-translate dari awal sampai akhir gala premiere dan baru bisa jeda sejenak saat film kena banned.

Rasa penasaran berikutnya bagi saya, kok Arslan bisa tahu al-liwa dan ar-rayah dan bagaimana mengenal khilafah. Saya sempat menanyakan ini, dia menjawab teman-temannya punya bendera Rasulullah. Sampai di titik ini saya berpikir, bagaimana bisa mewawancarai mereka lebih lanjut. Inilah yang membuat saya maju mundur karena tahu sendiri kesibukan mereka.

Akhirnya saya mencoba menawarkan wawancara dengan Zein. Dia suka membaca. Salah satunya adalah buku yang ditulis Dr. Malkawi, “Fall of Capitalism and Rise of Islam.” Ternyata dia tidak bisa, sangat sibuk dan menurutnya juga sangat tidak aman membicarakan seputar khilafah via medsos. Ya sudahlah. Akhirnya sempat terlupakan agenda untuk mewawancarai mereka. Saya pun sibuk dengan aktivitas saya.

Akhir September saya ketahui dari story Arslan dia sedang melakukan perjalanan. Saya tanya, apa ada trip ke Abu Dhabi? Dia bilang ke Pakistan. Oh, rupanya benar dugaan saya, dia memang asli Pakistan. Akhirnya saya tawarkan wawancara. Sekalian ada beberapa hal yang ingin saya ketahui tentang Kashmir setelah Agustus lalu Zein dan Arslan mengerjakan proyek video nasyidnya Omar Esa dan Raw Flow berjudul Kashmir dan kebetulan saya mengikuti BTS-nya yang cukup menarik perhatian saya.

Lokasi syutingnya di Canterbury, Inggris namun menyerupai area pertahanan milisi Afghanistan.
Alhamdulillah Arslan mengiyakan tawaran saya. Arslan siap menjawab pertanyaan-pertanyaan saya kapan pun. Dari sinilah saya bisa mendapatkan kisah seputar konflik di Kashmir, bahkan terbuka kesempatan mewawancarai Raw Flow seputar dua nasyid baru mereka, Now We Are Free dan Kashmir.

Now We Are berkisah mimpi mereka untuk menegakkan kembali Daulah Islamiyyah yang akan membebaskan Suriah, Palestina, Kashmir, Yaman, dst. Inilah yang membuat saya menggali lebih lanjut bagaimana mereka mengenal Sistem Khilafah sebagaimana Arslan dan brothers lainnya di UK.
Di tengah kencangnya Barat menyerukan Islamophobia dan melabeli ekstremis bagi Muslim yang menginginkan kembalinya sistem Khilafah, ternyata itu tidak membuat surut mimpi mereka meskipun sebagai minoritas.

Sebagian ada yang takut dengan labelisasi tersebut, namun sebagian tetap berani. Bahkan masih bisa menggelar acara tahunan di kalangan pemuda sebagaimana yang diceritakan Arslan. Mereka menggelar flash mob dan lumayan banyak dihadiri oleh pemuda-pemuda di UK. Saya tidak sengaja mendapatkan video acara tersebut di IG dan ternyata the man behind the camera-nya adalah Zein.

Ada juga pernyataan yang menarik dari Brother Mohammed, rapper sebagaimana Raw Flow, menurutnya, kita saat ini hidup di sistem iblis. Saya sempat mengkonfirmasi maksud pernyataannya. Dia mengungkapkan, kehidupan kita saat ini terkuras untuk nafsu duniawi, mengejar kebahagiaan semu jauh dari tuntunan Islam dan apa yang diajarkan Rasulullah.

Semua dinilai dengan uang. Yang kaya dialah yang berkuasa. Ini adalah pengalaman pribadinya setelah brother Mohammed kehilangan hak asuh anak semata wayangnya bahkan teralienasi dari putrinya tersebut karena tidak adanya keadilan dari keputusan pengadilan UK. Bahkan perceraian menjadi komoditi yang dikomersilkan, lahan meraup keuntungan bagi para pengacara di UK.

Kesadaran akan rusaknya sistem sekuler kapitalis inilah yang mendorong saudara-saudara Muslim di UK intens menyuarakan Islam. Suara mereka di media mainstream memang tidaklah nyaring. Sebagaimana yang sempat saya tanyakan pada brothers Raw Flow, apakah mereka tahu aksi masyirah panji Rasulullah (MAPARA), Aksi 212? Ternyata tidak.

Tentu wajar mengingat media di sana pun dikuasai oleh media sekuler kapitalis. Saya akhirnya mengirimkan sejumlah dokumentasi acara MAPARA dan Aksi 212. Masya Allah. Siapapun pasti akan terharu melihatnya, tak terkecuali brothers di UK.

Namun, bukankah menghalangi kebangkitan khilafah ibarat menghadang terbitnya matahari dan ini tentu mustahil. Geliat kebangkitan Islam dan kerinduan hidup dalam naungan khilafah terus menggelora di sana. Saya mendapatkan dokumentasi sejumlah acara publik yang menunjukkan itu semua—kerinduan akan hidup dan bersatu dalam naungan khilafah–tentu saja bukan dari media mainstream.

Setidaknya ini sebagai penguat dari hasil wawancara saya dengan brothers Raw Flow, Arslan, dan Mohammed. Bahwa kita memiliki mimpi yang sama. Kita memiliki arah perjuangan yang sama, baik Muslim di Barat maupun di Timur, yakni hidup mulia di bawah naungan panji-panji tauhid.

Share.

Leave A Reply

setPostViews(get_the_ID()); echo getPostViews(get_the_ID());